Selasa, 03 Maret 2015

resensi film : tenggelamnya kapal van der wijck

Film tenggelamnya kapal van der wijck merupakan adaptasi dari karya buya hamka yang diangkat ke layar lebar dan dibintangi oleh herjunot ali (zainuddin), pevita pearce (hayati), dan reza rahadian (aziz). Film arahan sunil soraya ini berhasil menduduki peringkat teratas sebagai film yang paling banyak ditonton selama tahun 2013. Di film ini, rangkaian kata-kata indah dari buya hamka bisa kita nikmati melalui karakter zainuddin dan hayati.

Dikisahkan pada tahun 1930 zainuddin berlayar dari makassar (kampung halaman ibunya) ke batipuh, padang panjang (kampung halaman ayahnya). Disitu ia bertemu dengan bunga desa dari batipuh, yaitu rangkayo hayati. Zainuddin yang memendam perasaan kepada hayati seketika menjadi pujangga denan memberikan kata-kata yang indah kepada hayati.

Setelah melalui alur yang romantis, cerita memasuki bagian konflik. Yaitu ketika hubungan berbeda budaya ini ditentang oleh para tetua suku dan ninik mamak hayati karena zainuddin bukan keturunan orang minang tulen dan zainuddin bukan seseorang yang mapan dan dianggap tak cocok untuk menjadi sandaran hidup hayati dan dianggaptak sanggup menafkahi keluarganya kelak nanti. Pada akhirnya para tetua suku meminta agar zainuddin angkat kaki dari batipuh. Sebelum pergi, zainuddin dan hayati mengucap janji setia ditepian danau yang biasa menjadi tempat zainuddin menulis.

Di suatu ketika, Zainnuddin kembali lagi ke Padang Panjang untuk memperdalam belajar agama. Namun, apa yang didapat, janji suci antara dirinya dengan Hayati ternyata hanya sebatas manis di mulut. Hayati ternyata sudah dipersunting oleh Aziz, seorang anak kaya raya yang berdarah Minang dan tidak hanya itu saja, Aziz juga adalah seorang keturunan bangsawan sehingga tetua adat lebih menyukai Aziz dibanding Zainuddin yang tak punya apa-apa. Mengetahui kenyataan itu, Zainuddin meluapkan amarah dengan mengatakan pernikahan Hayati dan Aziz hanyalah, “Pernikahan harta dan kecantikan”.


Zainuddin pun jatuh sakit melihat kabar itu, hatinya sakit bukan main. Di situ, Muluk (Randi Nidji) menasihati Zainuddin untuk terus melangkah dan Zainuddin pun membawa hati yang sakit itu ke tanah Jawa, dengan banyak belajar tentang hidup dan ia akhirnya berhasil menjadi orang terpandang. Zainuddin memanfaatkan tulisan-tulisan berharganya yang ia telah telah alami ketika saat harapannya pupus. Ia menuliskan semuanya dengan mesin TIK, lalu mengirimkannya ke surat kabar di Batavia (Jakarta). Karya tulisnya pun dinikmati oleh seluruh masyarakat tanah air dan sampai ke Sumatera Barat. Zainuddin yang dalam setiap tulisannya selalu menuliskan inisial namanya, yaitu Z yang menjadi buah bibir seluruh masyarakat.

Setelah itu, Zainuddin juga menulis sebuah buku hingga membawanya menjadi pemimpin surat kabar di Surabaya. Di sini ia mengumpulkan semua perantau  dari Minang di tanah Jawa. Dan dalam sebuah pagelaran Opera, Zainuddin melihat keberadaan Hayati dengan suaminya yang ternyata selama ini telah tinggal dan bertugas di Surabaya.

Zainuddin sangat teguh pendirian, ia menganggap bahwa hayati adalah hanya sebatas kerabat, istri dari sahabatnya yaitu aziz. Zainuddin sebenarnya sangat merasakan sakit hati yang sangat luar biasa, ia diam-diam selalu memperhatikan hayati.

Sampai akhirnya aziz yang bekerja di pemerintah belanda dipecat dan ia pun kini terlilit banyak hutang akibat perjudian hingga mereka jatuh miskin. Aziz memanfaatkan kebaikan dari zainuddin. Zainuddin pun mengizinkan mereka, hayati dan aziz, untuk tinggal dirumahnya yang berada disurabaya. Namun, dua bulan berlalu, tiba-tiba aziz jatuh sakit akibat minuman keras. Seminggu setelah terbaring dikasur, aziz merasa lebih baik dan ingin pergi merantau untuk mencari pekerjaan dan membalas kebaikan  yang telah dilakukan oleh zainuddin.

Berita mencengangkan pun terjadi, zainuddin menerima surat dari aziz bahwa ia telah melepas hayati dari ikatannya dan mendapat kabar bahwa aziz meninggal karena overdosis, aziz merasa hanya itu yang bisa ia lakukan untuk membalas kebaikan zainuddin dan hayati.
Namun, zainuddin tak bisa menerima hayati dengan lapang dada, karena ia telah berpegang teguh pada janjinya bahwa ia hanya akan menjadi kerabat hayati. Dengan perasaan yang campur aduk, hayati diminta untuk kembali kekampung halamannya di batipuh, hayati hanya bisa menurut saja atas apa yang diperintah oleh zainuddin.

Hayati pulang ke kampung halamannya menggunakan kapal van der wijck. Sampai akhirnya kapal itupun tenggelam. Menyesal dengan apa yang telah zainuddin lakukan terhadap hayati, yaitu menyuruhnya pulang ke kampung halamannya, zainuddin berniat menjemputnya di batavia. Namun ia terlambat, ia melihat surat kabar bahwa kapal tersebut tenggelam.
Zainuddin amat sangat menyesal, ia pun akhirnya menguburkan “kekasihnya” itu di halaman rumahnya, dan iya memajang foto hayati dengan tulisan “permatakoe” dibagian bawah lukisan itu.

Dalam film yang hampir berdurasi 3 jam ini memiliki beberapa kekurangan, yaitu durasi yang terlalu lama, special effect yang hanya pas pasan, banyak adegan adegan yang menurut saya tak terlalu penting dan adanya musik pop yang mengurangi suasana pada zaman dulu. Bahasanya pun sulit dimengerti. Dan tenggelamnya kapal tersebut sangat tidak jelas karena apa, dan pada saat evakuasi itu sangat cepat dan itu sangat tidak masuk akal

Disamping dari kekurangannya itu, film ini menyuguhkan artistik di era 1930’an yang cukup bagus, selain itu, film ini cukup membuat orang sedih karena ceritanya hampir seperti nyata, dan kata-kata yang ada didalam film itu sungguh sangat menyentuh hati. Para pemain film itu sangat menghayati perannya yang membuat para penonton larut dalam kisah itu



“demikianlah perempuan, dia hanya ingat kekejaman orang kepada dirinya walaupun kecil. Dan dia lupa kekejamannya sendiri kepada orang lain padahal begitu besar” cuplikan kata kata zainuddin dalam film tenggelamnya kapa vander wijck.