Rabu, 08 April 2015

perjuangan



Sudah menjadi hal yang biasa jika banyak Warga Negara Indonesia yang merantau dan bekerja di malaysia, sebuah negara yang sering dibilang sebagai serumpun dan sebahasa dengan Negara Indonesia. Film ini dibuat untuk sedikit menggali sisi kehidupan masyarakat di desa kecil yang berada diperbatasan antara Indonesia dengan Malaysia.

Film yang disutradarai oleh Herwin Novianto ini menceritakan tentang keadaan masyarakat Indonesia di daerah perbatasan antara Indonesia dengan Malaysia yang terletak di Pulau Kalimantan. Mulai dari pendidikan, teknologi, ekonomi, kesehatan bahkan sampai dengan nasionalisme masyarakat perbatasan semuanya dibuat dengan sangat bagus. Alur film ini yang sangat rapi dan teratur ditambah pula dengan bumbu-bumbu komedi membuat film ini layak ditonton oleh semua kalangan usia.

Cerita dimulai ketika Haris (Ence Bagus) pulang dari perantauannya, yaitu serawak, Malaysia. Haris adalah seorang duda yang memiliki dua orang anak yaitu Salman (Osa Aji Santoso) dan Salina (Tissa Biani Azzahra). Selama ini haris bekerja di serawak dan sesekali ia pulang ke kampung halamannya. Kedua anaknya dititipkan kepada Ayahnya yang bernama Hasyim (Fuad Idris). Ia adalah mantan pejuang operasi dwikora yang berperang melawan Malaysia.

Haris mengajak ayahnya untuk tinggal di malaysiakarena fasilitas disana kemadai, tetapi Hasyim menolak dengan alasan bahwa Indonesia adalah tanah surga yang telah Ia perjuangkan. Haris hanya berhasil mengajak Salina, sedangkan Salman tetap tinggal bersama kakeknya.

Di samping itu, di dalam film ini terdapat sindiran-sindiran untuk pemerintah Indonesia tentang kesejahteraan masyarakat pinggiran yang seakan-akan terabaikan, seperti misalnya kenyataan bahwa orang di pinggiran sana memakai uang ringgit untuk bertransaksi sehari-hari. Kemudian, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka, mereka harus berdagang ke Malaysia dan barang-barang untuk kebutuhan sehari-harinya pun juga didapatkan dari pasar Malaysia bukannya dari Indonesia dan tidak jarang pula mereka ditipu oleh pedagang Malaysia. Begitu pula dalam hal teknologi, di film ini digambarkan bahwa di daerah perbatasaan sana teknologi sangat tertinggal jauh, untuk berkomunikasi saja masih menggunakan radio dan yang memiliki TV hanya ketua dusun saja. Lalu, yang paling parah adalah ketika mereka tidak tahu bagaimana bentuk bendera pusaka Indonesia dan juga tidak tahu lagu kebangsaan Indonesia Raya karena minimnya pendidikan di sana. Sebenarnya, sindiran itu sudah bisa dirasakan hanya dari membacanya judulnya saja, Tanah Surga Katanya. Namun, sindiran-sindiran tadi bukanlah hanya sekedar sindiran semata melainkan sekaligus berupa pesan dari film ini.

Fasilitas pendidikan disana juga sangat minim, disana hanya ada satu guru yang mengajar yaitu bu astuti (astri nurdin). Disana bu astuti mengajar rangkap kelas tiga dan kelas empat. Bahkan disana sempat vakum selama satu tahun karena tidak ada guru yang mengajar. Fasilitas kesehatan disana pun sempat kosong dikarenakan Dokter Rukma meninggal. Kemudian datang seorang dokter yang berasal dari bandung yaitu Dokter Anwar (Ringgo Agus Rahman). Disana ia biasa dipanggil Dokter intel karena lized salah faham kepada Dokter Anwar. Dokter anwar pun sempat memberikan hadiah kepada Ibu Astuti yaitu sebuah shampoo, memang disana shampoo cukup susah untuk membelinya karena tidak ada toko yang berjualan.

Ditengah cerita, datang orang-orang dari dinas pendidikan untuk membantu keadaan pendidikan disana. Bu astuti dipercayakan oleh kepala dusun untuk membuat acara penyambutan untuk orang-orang Dinas Pendidikan yang berupa pentas seni. Semua berjalan sesuai yang direncanakan Bu Astuti. Pihak Dinas Pendidikan pun sudah ingin memberikan apa yang kurang di sekolah itu. Namun, ketika salman membacakan puisi karangannya, pihak Dinas Pendidikan mengurungkan niat untuk membantu menyejahterakan sekolah itu dikarenakan puisi karangan salman ini agak menyinggung pihak Pemerintah dan Dinas Pendidikan.

                                      puisi karya Salman dalam film tanah surga..katanya




Waktu terus berjalan, penyakit kakek hasyim pun semakin parah. Salman memanggil Dokter Intel untuk memeriksa keadaan kakeknya. Namun sayang, kondisi Kakek Hasyim kian hari kian memburuk, ia pun harus dibawa ke rumah sakit yang berada di malaysia. Ketika berada di perjalanan menuju rumah sakit, perahu yang di naiki oleh Dokter Intel dll. pun mengalami kerusakan dibagian baling-baling motor. Hal ini memperlambat perjalanan mereka.

Matahari mulai tenggelam, latar yang sangat indah ketika matahari berada diantara dua buah gunung. Namun sayang, keindahan itu sangat bertolak belakang dengan keadaan  Kakek Hasyim saat ini. Ia sempat memberikan berapapesan untuk salman. Setelah itu, Hakek Hasyim pun pergi meninggalkan dunia ini selamanya.

Salman yang amat terpukul atas kepergian Kakeknya itu pun langsung menelfon ayahnya yang berada di Malaysia untuk menyampaikan kabar duka ini. Ayahnya yang sedang menonton pertandingan bola disebuah kedai di malaysia yang memperlihatkan sebuah pertandingan sepak bola antara Indonesia melawan Malaysia langsung kaget seakan tidak percaya. Haris menyembunyikan perasaan sedihnya dari Salina.

Kekurangan :

Kekurangannya adalah cerita yang agak menggantung dan ketika latar waktu malam hari dalam film agak kurang kelihatan. Keindahan alam disana pun kurang dikeluarkan.

Kelebihan :

Tema film yang cukup menarik karena jarang sekali ada produsen film yang mengangkat cerita tentang desa di perbatasan antara Indonesia-Malaysia. Alur ceritanya cukup terarur.